RBM ( Rehabilitasi Berbasis Masyarakat )

0 komentar


M.Rony
Cibabat (SC),Agak sulit menemukan pemimpin yang dapat menyatu dengan rakyat nya.Lain halnya dengan Bapak camat Cimahi utara M.Rony beserta ibu camatnya yang hadir dalam pembukaan acara assesment pendataan anak disabiltas di Aula Kecamatan Cimahi Utara (18/06/2013).

Beliau begitu menyatu dengan rakyat” Kita adalah saudara , Diusahakan adanya RBM ini ada transfer pengetahuan dan ketrampilan dari profesional kepada keluarga dan masyarakat Khususnya di Cimahi Utara dan Umumnya di Kota Cimahi agar mereka mau dan mampu  terlibat dalam upaya membantu kemandirian hidup kaum disabilitas agar kualitas hidupnua semakin membaik.

Rehabilitasi Berbasis Masyarakat
RBM hadir di Kota Cimahi di bawah Dinas sosial dan LSM atau tenaga sukarelawan seperti dari Save the Chlidren yang salah satu sukarelawannya adalah Ibu Nurhasanah, Sania, Jaka Adi.Sebagai nara sumbernya adalah Ibu Pipin.

Safety Children
RBM  hadir sebagai upaya pemberdayaan dan pemenuhan hak-hak disabilitas harus terintegrasi, lintas sektor, lintasdinas/lintas kementrian, terorganisir dan dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama dengan masyarakat dan dimonitor serta dievaluasi secara serius dan berkesinambungan oleh pemerintah.

Tujuan di adakan acara assesment pendataan anak disabiltas di Aula kecamatan Cimahi Utara itu adalah Pendataan jenis – jenis disabilitas di seputar Kota Cimahi, Penanganan dan Pelayanan kepada anak disabilitas.

trais nurhasanah
Banyak LSM dan Organisasi Difabel yang bekerja dalam isu-isu kecacatan tapi kebanyakan berfokus di tingkat akar rumput dan belum banyak menyentuh advokasi kebijakan strategis,bahkan sebagian menggunakan pendekatan rehabilitasi saja.

Yang menarik salah satu relawan dari safety children adalah jaka, beliau Tuna Netra total setelah menginjak kuliah, dengan keterbatasan fisiknya dia memberikan motivasi kepada orang tua yang hadir di aula itu.

kota cimahi
Pada awalnya kecacatan dianggap sebagai masalah individu dan hanya isu tunggal yaitu isu medis (kesehatan). Dalam cara pandang model medis tersebut, para profesional rehabilitasi mencoba untuk memecahkan masalah kecacatan dengan pendekatan  medis di mana difabel menjadi obyek pelayanan rehabilitasi medis.

rehabilitasi berbasis masyarakat
Jika kecacatan bisa disembuhkan (seperti operasi pada bibir sumbing, operasi kaki ‘clubfoot’, dll),maka masalah akan terpecahkan. Tetapi, jika kecacatan tidak dapat disembuhkan, maka justru orang “cacat” tersebut dianggap tidak memiliki harapan.

Dipengaruhi oleh carapandang medis terhadap kecacatan tersebut, keluarga dan anggota masyarakat kemudian cenderung pasif dan mengabaikan keberadaan  dan hak-hak penyandang cacat.

Dari sinilah kemudian banyak terjadi pelanggaran hak asasi manusia, dalam hal ini hak-hak asasi difabel.Setelah Model Medis, muncullah Model Sosial, dimana kecacatan dianggap sebagai masalah sosial. Seseorang menjadi cacat karena lingkungan (tidak aksesible), masyarakat (sikap negatif), peraturan (diskriminatif), dll.

Jadi masalah tidak terletak pada individu, tetapi ada dalam masyarakat. Model Sosial menolak untuk mengakui bahwa satu-satunya prosedur yang dapat meningkatkan kualitas hidup difabel adalah prosedur medis.

Model sosial ini banyak dipromosikan dan dikembangkan oleh lembaga swadaya masyarakat dan organisasi difabel dengan pendekatan RBM (Rehabilitasi Bersumber daya Masyarakat).

Dari kedua model tersebut, kita belajar bahwa ketika berurusan dengan masalah  kecacatan, kita harus  bekerja baik dengan difabel maupun dengan stakeholder lainnya.

Dalam realitanya, para difabel lebih terpinggirkan lagi dalam masyarakat karena kecacatan dan kemiskinan yang mereka alami.

Secara kuantitatif, jumlah populasi difabel cenderung meningkat.

Di Kota Cimahi sekitar 400 orang lebih dan sekitar 200 orang di bawah 17 tahun. Bukan hanya dari sisi jumlah. Jenis kecacatan pun juga meningkat. Beberapa dekade sebelumnya tidak banyak anak-anak dengan autisme, tapi sekarang jumlah autisme meningkat secara signifikan  .

Laporan Dunia mengenai kecacatan (oleh Bank Dunia dan WHO, 2011) memperkirakan bahwa 15% dari populasi dunia, khususnya populasi di negara berkembang, termasuk Indonesia, adalah difabel.

RBM tidak berhenti di sini saja Pada hari kamis dan jumat tanggal , 26 -27 Juni 2013 akan di adakan lagi acara yaitu Pelatihan Penanganan Anak dengan Disabilitas untuk Kelurahan Citeureup dan Kelurahan Cipageran di Aula Kecamatan Cimahi Utara.
Share this article :
Comments
0 Comments

Poskan Komentar

 
Support : Modfy Website | Adi Hermansyah | Abah Aong
Copyright © 2013. Seputar Cimahi - All Rights Reserved