Paradigma Baru Tentang Seni Ketangkasan Domba Garut

0 komentar

Silaturrahmi rutin yang terus dijalin, seringnya di adakan Seni Ketangkasan domba garut yang dijadikan sebagai sarana pertemuan antarpemilik, peternak dan pencinta domba adu. Ini di karenakan Setiap dua minggu sekali para anggota HPDKI Pamidangan Cikawati yang berada Di Desa Pakuhaji – Kabupaten Bandung Barat maupun masyarakat umum pencinta maupun penikmat ketangkasan domba adu (garut).


Silaturahmi di antara komunitas tidak hanya sekadar datang untuk melatih domba mereka dengan cara diadukan. Acara yang digelar juga dijadikan ajang saling tukar informasi, ilmu pengetahuan, hingga berbagai permasalahan yang ada kaitannya dengan hobi dan kecintaan mereka terhadap domba garut. "Tidak sedikit di antara kami menjadikan pertemuan sebagai ajang transaksi jual beli.

Ya, memang banyak hal yang bisa didapat dari pertemuan di saat latihan bersama para anggota HPDKI Pamidangan Cikawati . Hal itu tidak hanya dirasakan para anggotanya, tetapi juga masyarakat yang tidak memiliki domba adu sekalipun.

Komunitas domba Garut yang tergabung dalam HPDKI Pamidangan Cikawati , bukan hanya monopoli pemilik domba adu atau peternak domba. Sejumlah seniman ibing pencak juga selalu berkesempatan bergabung untuk unjuk kebolehan sekadar membawakan beberapa jurus saat domba di pakalangan sedang diadu diiringi kendang pencak.


Meski tidak turut bergabung dalam HPDKI Pamidangan Cikawati , jumlah penari ibing yang terdiri dari anak-anak kamum muda bahkan kebanyakan kaum usia lanjut yang secara rutin selalu hadir di setiap latih tanding, apalagi kalau dikumpulkan dan dibuat wadah,

Perubahan paradigma lama domba adu terus dilakukan, antara lain melalui perubahan peraturan oleh organisasi HPDKI Tak heran jika arena adu ketangkasan saat ini lebih menjadi arena seni dan budaya, tempat bertemunya antar peternak, penghobi, showroom, transaksi bibit domba berkualitas, serta objek wisata.

Selain merupakan bagian dari pelestarian nilai-nilai kasundaan, komunitas domba garut HPDKI Pamidangan Cikawati juga merupakan pasukan pelestari seni budaya Sunda, mulai dari berpakaian karena saat datang ke pamidangan mereka umumnya mengenakan pakaian kampret (pakaian hitam) berikut iket (ikat kepala) dan seiring berjalannya waktu Para pencinta seni ketangkasan juga di jadikan sebagai Fashion trend di kalangan para pemilik dan pencinta juga salah satunya adalah topi laken ( Topi dari kulit berbentuk bundar yang di hiasai oleh manik-manik dan bulu ayam ).

Sebagai tambahan accessories yang tak terlupakan para pencinta seni ketangkasan domba garut akan lebih gagah dan berwibawa jika mengenakan ikat pinggang yang di desain khusus yang terbuat dari kuli juga yang harganya bisa mencapai ratusan ribu.



Mengenai keberadaan komunitas HPDKI Pamidangan Cikawati , itu bukan hanya sekadar wadah untuk bergabung dalam berorganisasi. Selebihnya hubungan yang terjadi di pamidangan Cikawati lebih kepada hubungan manusia dengan manusia dan manusia kepada alam. Karena kecintaannya, setiap pemilik, peternak, pencinta, maupun penyuka seni ketangkasan domba adu, tidak segan-segan uintuk bertandang ke luar daerah ataupun sebaliknya.



Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Support : Modfy Website | Adi Hermansyah | Abah Aong
Copyright © 2013. Seputar Cimahi - All Rights Reserved